Si Sibuk Part I

Dia datang lagi. Kembali mengukir sejuta makna dalam hati. Ia kembali. Tidak. Ia tak pernah datang sebelumnya. Kusebut apa perasaan ini? Entah. Namun pada edisi kabut ini, pena ini takkan mengungkap kerisauan hatiku. Cukup diriku dan tuhan yang selalu menjadi tempat mengaduku yang tahu.

Ini tentang kesibukan. Banyak orang yang menganggap sibuk itu berjarak dekat dengan sukses. Orang yang sibuk berarti mempunyai kesibukan dan kesibukan itulah yang membuatnya berhasil dicap oleh sebagian orang bahwa ia memiliki segudang aktivitas yang bermanfaat. Entah itu sebagian atau banyak orang yang beranggapan seperti itu, namun anggap saja saya tidak termasuk dalam golongan sebagian dan banyak itu. Susah menjelaskannya. Namun menilik dari fakta yang terekam di lensa indera penglihat kemudian kembali diproses diotak, kalian boleh setuju kalau saya mengatakan bahwa banyaaaaaaaaaaaaak orang yang bangga jika ia dijuluki sebagai orang sibuk. Mengapa demikian? saya hanya mengamati dan sedikit menguji segelintir orang disekitar saya. Tidak akan kuuraikan kronologisnya, silahkan anda coba mengamati versi anda sendiri, sewaktu-waktu kita bisa berbagi. Oh iya…Maka dari itu saya simpulkan dengan erat bahwa menurut banyak orang, sibuk itu kerennn.. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa saya bukan salah satu dari banyak orang tersebut. Tak bermaksud munafik. yah, ini halnya.
“Ah, sudahlah.. saya sibuk. Mau ini, mau itu, blum ini, itu.. saya tidak punya waktu untuk itu. Mohon pengertiannya” -Berlebihan. saya paling tidak suka mendengar sederet kalimat yang makna bahkan persis dengan kalimat yang di Bold tadi. Why? Terkesan meremehkan orang lain, menganggap hanya dirinya yang memiliki urusan, orang lain tidak.
Jadi bagaimana kesibukan yang benar menurutku versi penaku? Jujur saja, saya sangat benci segala bentuk kesibukan yang berlandaskan materi dan aktivitas dunia nan semu lainnya. Bagiku itu sia-sia jika tidak ada keterikatan dengan hukum syara’ didalamnya. Sebaliknya saya sangat mencintai kesibukkan untuk akhirat kelak. Tak bermaksud mengabaikan urusan dunia namun bukankah jika memaksimalkan/fokus pada urusan akhirat maka urusan dunia pun akan ikut terpenuhi, ibaratnya sambil meyelam minum air. Tak percaya? Silahkan dicoba ! Namun sebelumnya anda harus mempelajari caranya dengan belajar islam. Bukan begitu? Belajar ilmu islam itu ibarat peta yang menuntun anda untuk meraih dunia dan akhiratmu.
Aku tlah menobatkan sesuatu yang sangat berlawanan dengan diriku yang sebenarnya di zaman jahiliyahku dahulu, yakni “Bergelut dengan urusan dunia adalah zona nyaman bagi diriku”. Terkadang aku harus berjuang untuk keluar dalam zona yang menggiurkan itu. Sesaat.
Mungkin, (Mungkin saja) sebagian dari kalian beranggapan bahwa aku terlalu fanatik dengan agamaku. Namun dengan tegas tanpa basa-basi saya menjawab bahwa “ Bukankah fanatik terhadap agama (Islam) itu dianjurkan? Dapatka surga kita raih dengan ibadah yang biasa-biasa saja? Ingat.. Fanatik terhadap agama itu dianjurkan. Tidak untuk fanatik terhadap organisasi, materi dan semua tentang kemilau semu dunia yang menyesatkan lainnya…
Renungkan!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s