Kuberharap hujan turun disujud sepertiga malamku….

0

Mendung. Kenapa tak hujan saja? tidak. Jangan hujan. Biarkan aku menahannya, agar hujan itu tak turun saat ini. Aku tak berbicara masalah ciaca hari ini. Ini tentang suasana hati yang kembali ingin diukirkan oleh penaku.
Butuh kesejukan hujan untuk membasahi segenap hati yang gersang. Gersang karena terik kehilangan. Hilang yang mendatangkan sebuah kekecewaan. Aku kecewa namun dipihak lain lebih dari itu. Salah? jelas aku. Tapi aku punya alasan untuk itu. Aku selalu berpikir,kapan aku bisa berubah dalam hal ini. Aku selalu mengganggap ini adalah hukuman bagiku. Tapi sama saja ini seperti hukuman diera demokrasi ini. Tidak ada efek jeranya. Namun akan kuciptakan kejerahan itu untukku. Hanya itu…
Sudut batin yang membatin disudut ruang yang menyaksikan segala sesuatu yang kulakukan setiap harinya selepas menjalani aktivitas diluar sana.
Maka dari itu kuminta agar mendung ini tak menjatuhkan hujan untuk meluapkan segala kepenatan sang terik yang menggersangkan alam. Itu hatiku. Hatiku.. mungkin juga terjadi pada hatimu. Yah, bisa jadi…Namun tak bermaksud utukk tidak meluapkannya. Maka harapku, hujan turun di sujud sepertiga malamku….
Ya.Allah, bimbinglah dakuu..

Si Sibuk Part I

0

Dia datang lagi. Kembali mengukir sejuta makna dalam hati. Ia kembali. Tidak. Ia tak pernah datang sebelumnya. Kusebut apa perasaan ini? Entah. Namun pada edisi kabut ini, pena ini takkan mengungkap kerisauan hatiku. Cukup diriku dan tuhan yang selalu menjadi tempat mengaduku yang tahu.

Ini tentang kesibukan. Banyak orang yang menganggap sibuk itu berjarak dekat dengan sukses. Orang yang sibuk berarti mempunyai kesibukan dan kesibukan itulah yang membuatnya berhasil dicap oleh sebagian orang bahwa ia memiliki segudang aktivitas yang bermanfaat. Entah itu sebagian atau banyak orang yang beranggapan seperti itu, namun anggap saja saya tidak termasuk dalam golongan sebagian dan banyak itu. Susah menjelaskannya. Namun menilik dari fakta yang terekam di lensa indera penglihat kemudian kembali diproses diotak, kalian boleh setuju kalau saya mengatakan bahwa banyaaaaaaaaaaaaak orang yang bangga jika ia dijuluki sebagai orang sibuk. Mengapa demikian? saya hanya mengamati dan sedikit menguji segelintir orang disekitar saya. Tidak akan kuuraikan kronologisnya, silahkan anda coba mengamati versi anda sendiri, sewaktu-waktu kita bisa berbagi. Oh iya…Maka dari itu saya simpulkan dengan erat bahwa menurut banyak orang, sibuk itu kerennn.. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa saya bukan salah satu dari banyak orang tersebut. Tak bermaksud munafik. yah, ini halnya.
“Ah, sudahlah.. saya sibuk. Mau ini, mau itu, blum ini, itu.. saya tidak punya waktu untuk itu. Mohon pengertiannya” -Berlebihan. saya paling tidak suka mendengar sederet kalimat yang makna bahkan persis dengan kalimat yang di Bold tadi. Why? Terkesan meremehkan orang lain, menganggap hanya dirinya yang memiliki urusan, orang lain tidak.
Jadi bagaimana kesibukan yang benar menurutku versi penaku? Jujur saja, saya sangat benci segala bentuk kesibukan yang berlandaskan materi dan aktivitas dunia nan semu lainnya. Bagiku itu sia-sia jika tidak ada keterikatan dengan hukum syara’ didalamnya. Sebaliknya saya sangat mencintai kesibukkan untuk akhirat kelak. Tak bermaksud mengabaikan urusan dunia namun bukankah jika memaksimalkan/fokus pada urusan akhirat maka urusan dunia pun akan ikut terpenuhi, ibaratnya sambil meyelam minum air. Tak percaya? Silahkan dicoba ! Namun sebelumnya anda harus mempelajari caranya dengan belajar islam. Bukan begitu? Belajar ilmu islam itu ibarat peta yang menuntun anda untuk meraih dunia dan akhiratmu.
Aku tlah menobatkan sesuatu yang sangat berlawanan dengan diriku yang sebenarnya di zaman jahiliyahku dahulu, yakni “Bergelut dengan urusan dunia adalah zona nyaman bagi diriku”. Terkadang aku harus berjuang untuk keluar dalam zona yang menggiurkan itu. Sesaat.
Mungkin, (Mungkin saja) sebagian dari kalian beranggapan bahwa aku terlalu fanatik dengan agamaku. Namun dengan tegas tanpa basa-basi saya menjawab bahwa “ Bukankah fanatik terhadap agama (Islam) itu dianjurkan? Dapatka surga kita raih dengan ibadah yang biasa-biasa saja? Ingat.. Fanatik terhadap agama itu dianjurkan. Tidak untuk fanatik terhadap organisasi, materi dan semua tentang kemilau semu dunia yang menyesatkan lainnya…
Renungkan!!!