Aksesoris Jalanan kota daeng

Terik matahari seakan membakar kulitku siang itu yang sedang melaksanakan penelitian lapangan di salahsatu daerah di kotaku, Makassar. Anak jalanan menjadi objek penelitianku, ini merupakan tugas dari salah satu organisasi kampus yang ingin kumasuki. Rasanya sangat beruntung bisa di tugaskan untuk meneliti saudara-saudaraku yang malang.

Kuawali di daerah sekitar kampusku, kecamatan Rappocini. Tepatnya di Kompleks Agraria ku datangi sebuah pemukiman warga yang sangat kumuh dan memprihatinkan, ini merupakan pengalaman pertama saya mendatangi daerah seperti itu. Saya bersama salah seorang teman disambut ramah oleh seorang laki-laki yang kira-kira seumuran dengan saya yang sedang merapikan tumpukan sampah yang sudah di kumpulkan untuk segera di jual di atas bentornya. Namun pandanganku terfokus kepada seorang bocah polos yang sedang membantu laki-laki tadi, disamping itu teman saya meminta izin untuk mewawancai bocah polos tersebut dan dengan tersenyum laki-laki tersebut mengizinkan. Setelah proses wawancara selesai, aku duduk dibalai bambu depan rumah salah satu warga sambil mengamati lingkungan sekitar.

“Bagaimana bisa penerus bangsaku, bangsa kita hidup bersama sampah? bagaimana mereka bisa menghabiskan masa kecilnya dengan mencari sampah untuk di jual, setelah pulang menuntut ilmu di sekolah” gunamku dalam hati.

Lamunanku terhenti ketika bocah yang selesai aku wawancarai tadi kembali membawa bebarapa orang temannya lagi untuk di wawancarai.

“huhh, hari ini aku bak seorang reporter yang sedang mewawancarai artis-artis cilik yang kurang beruntung“ batinku.

Satu kesyukuran bagiku karena mereka semua masih sekolah dan mau sekolah karena pendidikan sudah di gratiskan oleh pemerintah dan yang membuatku tersenyum bangga hari itu adalah mereka yang mempunyai cita-cita yang mulia.
“Hayoo.. Adik-adik nanti kalo besarki mauki jadi apa?” ucapku terlalu semangat.

Namun tidak ada respon dari mereka. mereka saling bertatapan dan tersenyum, aku tahu mereka pasti punya cita-cita namun masih enggan untuk mengungkapkannya.

“begini, nanti toh, kakak kalo besar nanti mau jadi guru. nahh.. adik-adik mauki jadi apa kita?” sambungku berusaha mencairkan suasana bisu mereka.

“mauka jadi dokter kak..” ucap salah seorang anak perempuan dengan semangat.
dan akhirnya anak-anak jalanan tersebut berlomba-lomba untuk menyebutkan cita-cita mereka, ada yang mau jadi polisi, tentara, dan guru. Namun yang membuatku tersentuh saat salah seorang dari mereka ingin menjadi seorang ustadz. Setelah selesai berbincang-bincang dengan mereka, kuputuskan untuk berlalu di tempat tersebut karena masih banyak daerah yang ingin ku kunjungi.

Daerah selanjutnya di kecamatan Mariso, menurut data sebelumnya jumlah anak jalanan di daerah ini cukup banyak. Kutelusuri setiap lorong-lorong di daerah tersebut untuk menemukan anak jalanan. Tidak sulit mendapatkan anak jalanan di daerah ini. Sama seperti anak jalanan di daerah sebelumnya, rata-rata anak jalanan di daerah ini juga banyak yang sekolah dan memiliki cita-cita. Namun, yang membuatku sedikit merasa sedih dan kecewa ketika mewawancarai salah seorang anak jalanan yang sedang memikul sampah bersama ibunya. ketika mengetahui bahwa anak ini tidak sekolah, bahkan tidak pernah sekolah, aku semakin agresif untuk menanyakan beberapa hal kepadanya.

“Kenapaki tidak mau sekolah dek, padahal tidak nalarangki mama’ta? gratisji juga sekolah sekarang?“ ucapku. Namun anak tersebut tidak menjawab pertanyaanku, dan justru ibunya yang menjawabnya.
“iye’ nak, tidak mau sekali sekolah padahal kakaknya sekolahji. lebih nasuka bede cari uang”
“Mauki jadi apa nanti kalo besarki?” sambungku.
dengan nada malu-malu anak tersebut menjawab sepontan pertanyaanku tadi “mauka jadi pa’yabo-yabo’”.

Mendengar jawaban tersebut aku merasa kaget, dan berusaha membujuk anak tersebut untuk sekolah. dan kembali bertanya “kenapaki tetap mau jadi pemulung dek, kan kalo sekolahki bisaki dapat pekerjaan, nah pasti dapatki juga uang”

“Kalau sekolahka’ kak pasti sampai SD atau SMP saja karena tida gratis sekolah kalo SMA mki, rugi2 jeki sekolah”. ucapnya polos.
Aku kembali menjelaskan secara singkat tentang manfaat sekolah kepada anak tersebut dengan nada membujuk, dan meninggalkannya dengan perasaan sedikit kecewa.

Masih di daerah yang sama namun kali ini disekitar pasar, Aku memanggil salah seorang anak jalanan yang sedang menjual kantong plastik, setelah mewawancarainya tiba-tiba saja banyak anak jalanan yang menghampiriku dan ingin diwawancarai juga.
“hmm.. ini malah meringankan tugasku.. hehhe” gunamku dalam hati sambil tersenyum.

Aku masih bisa bernafas lega karena mereka semua masih sekolah. sama seperti anak jalanan lainnya mereka semua bekerja sepulang sekolah atas kemauan sendiri dan dukungan orangtua. Ketika saya bertanya tentang cita-cita mereka, rata-rata ingin menjadi penjual ikan.

“Kenapaki mau semua jadi penjual ikan?” tanyaku penasaran
salah seorang dari mereka yang terkesan cerewet mejawab dengan penuh semangat. “Karena dapatki uang yang banyak”.
Aku memandangi sekelilingku yang ternyata adalah pasar penjual ikan, pantas anak-anak ini ingin menjadi penjual ikan, karena dengan adanya penjual ikan mereka bisa mendapatkan uang.

“Oh.. kalo jadi penjual ikan ki dapatki banyak uang dihh, terus kalo jadi polisi, dokter, guru tidakdapatki uang kah ?”
Mereka semua tersenyum, dan serentak menjawab “tidak jadi pale kak, mauka ganti cita-citaku”.
“Nah, kalau begitu.. apa cita-cita2ta’ semua? mauka catat’i”. Aku sengaja mencatat cita-cita mereka supaya mereka mempunyai cita-cita yang tinggi dan ternyata benar mereka semua dengan wajah polosnya berteriak mengucapkan cita2 mereka.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan mereka, aku kembali mencari anak jalanan ditempat lain namun masih di kecamatan Mariso, dan di jalan aku bertemu 2 orang anak yang sedang jual ikan, ternyata mereka berdua adalah saudara sepupu. mereka semua sekolah meskipun hanya tinggal bersama pamannya. salah seorang dari mereka ingin menjadi tentara.

“ kita iyya dek, mauki jadi apa? tadi itu sepuputa’ mau jadi tentara”
“Jadi arsitek” ucapnya singkat.
“Wahh.. bagusnya cita-citata’ dek. di tauji kah apa itu arsitek?” Ucapku menguji.
“Perancang bangunan kak, yang rancang semuai gedung-gedung besar yang itu” ucapnya sambil menunjuk kearah gedung CCC dan gedung2 lainnya.
“Jadi nanti mauki bikik apa kalo jadi arsitek mki?” sambungku seolah-olah mengintrogasi.
“Mauka bikin mesjid besar yang banyak kak” ucapnya sambil tersenyum kearah sepupunya.

Kekagumanku semakin bertambah ketika mendengar ucapan anak tersebut, umurnya baru 8 tahun namun sudah memiliki cita-cita yang tinggi . Sayapun merasa tidak pernah ingin menjdi arsitek, karena pasti sangat sulit. Aku tidak menyukai hal-hal yang rumit seperti itu apalagi kalau sudah dikaitkan dengan perhitungan.

Kembali aku bertemu dengan anak jalanan yang lain namun di kecamatan yang berbeda, aku bertemu dengannya ditempat parkir di sebuah Indomaret, dia masih sekolah namun tidak mempunyai cita-cita saat itu dia bersama kakaknya namun sang kakak bercita-cita ingin menjadi tukang batu, seperti bapaknya. Saya bangga terhadap anak tersebut meskipun ayahnya mampu memberikan nafkah yang lebih kepadanya sehingga membuat ia harus kerja setelah pulang sekolah bersama sang adik namun ia tetap bercita-cita ingin menjadi tukang batu seperti bapaknya. Aku iri terhadap anak jalanan yang bercita-cita menjadi tukang batu tersebut, aku merasa banyak belajar darinya. Buat ayah dari sang anak jalanan tersebut, anda adalah ayah yang hebat !

Anak jalanan terakhir yang kutemui adalah seorang tukang parkir di Makassar Town Square, banyak dari mereka yang tidak bersekolah. Namun yang menarik perhatian saya adalah seorang anak jalanan yang bernama Irwan, umurnya 9 tahun, ia tidak pernah sekolah. Tapi aku bisa merasakan dan melihat dari sinar matanya saat kutanyakan masalah pendidikan bahwa ia sangat ingin sekolah. Dia terlalu bersemangat menjawab setiap pertanyaanku dengan wajah polosnya meskipun teman-temannya sesekali mengganggunya dan mengejeknya karna dia tidak sekolah.

“kenapaki tidak sekilah dek, padahal gratismi sekarang kalo mauki sekolah?”ucapku ramah.
“kutauji kak bilang gratis tapi kalau sekolahka’ tidak bisaka nanti beli baju olahraga dan lain-lain karena tidak gratis di sekolah daerah sini” sambungnya.
“Oh, iya seandainya gratis semua, tidak adaji dibeli-beli kalo sekolahki, tetapki tidak mau sekolah?”
“Mauka sekalika kak, tapi kalau sekolah ka’ tidak dapat mka uang karena sendirianku ji. tidak adami orangtuaku. bagaimanami caranya mauka cari uang untuk makan?”

Sejenak aku memandanginya tanpa kata, oh tuhan malang sekali nasib saudaraku ini, Pemerintah !! kali ini Saya merasa sangat kecewa melebihi kekecewaanku yang kemarin saat kau korupsi” bagaimana bisa kau menyebut dirimu pemerintah jika anak-anakmu kau biarkan menderita seperti ini. Negaraku, Inikah potretmu sesungguhnya dibalik pemberitaan media yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia meningkat dari tahun ketahun yang hanya dihitung perkapita saja.

Ditengah keasyikanku merenung anak tersebut meninggalkanku untuk kembali bekerja bersama temannya. setelah mewawancarai anak jalanan lainnya aku dan temanku memutuskan untuk pulang, namun kembali anak itu, irwan memanggilku.
“kak, mau mki pulang?”
“iya dek, malammi ini.. bekerja yang rajinki nah, semoga nanti bisaki sekolah”
“aminnnn.. ditauji namaku kak?”
Aku menggeleng, aku lupa nama anak tersebut.
“Irwan kak,ingat nah.. janganki lupa” ucapnya sambil tersenyum dan menjijing barang belajaan seorang pengunjung. Akupun berlalu.

Diperjalanan pulang aku sibuk memandangi pemandangan sekelilingku, jika biasanya pandanganku hanya terfokus pada gedung-gedung mewah di pinggir jalan, namun kali ini saya lebih senang mengamati anak jalanan dan berusaha menerka-nerka apa yang dirasakannya.

Hari-hari berikutnyapun demikian setiap aku kekampus melewati keramaian dan kemacetan aku selalu memperhatikan anak jalanan, mereka adalah saudaraku.aku masih ingat dengan jelas ucapan terima kasihnya dengan ikhlas saat mendapatkan selebar uang 1000 saat mengamen..
“Terima kasih” ucapnya…
Ikhlas sekali 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s